METODE ANALISIS DATA
4.1. METODE STATISTIKA
Pengertian statistik dan
statistika seringkali dicampur-adukkan, walaupun sebenarnya kedua istilah
tersebut berbeda. Statistika dapat diartikan sebagai metode ilmiah yang
digunakan untuk mengumpulkan, mengorganisasikan, meringkas, menyajikan dan
menganalisis data. Tujuannya adalah untuk dapat diperoleh gambaran yang
terperinci mengenai karakteristik data itu sendiri sehingga berguna bagi
penarikan kesimpulan. Sedangkan statistik hanya merupakan hasil dari pada
proses statistika. Statistik dipakai untuk menyatakan kumpulan data, bilangan
maupun non bilangan yang disusun dalam tabel atau diagram, yang menggambarkan
suatu persoalan.
Berdasarkan pengertian di atas,
maka statistika dapat dibagi menjadi dua metode, yaitu Statistika Deskriptif
dan Statistika Induktif. Statistika deskriptif merupakan metode yang
36 Metode Penelitian Kuantitatif : Plus Aplikasi Program
SPSS
berkaitan dengan pengumpulan dan
penyajian suatu hasil pengamatan (data) sehingga memberikan informasi yang
berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap data dan informasi
tersebut. Yang harus mendapatkan perhatian dalam statistika deskriptif adalah
hanya menyajikan atau memberikan informasi dari data yang dimiliki (data dari
sampel) dan bukan memberikan kesimpulan apapun tentang data populasi.
Penyampaian informasi yang dimaksud dapat berupa diagram, grafik, gambar, dan
tabel. Sedangkan statistika induktif adalah mencangkup metode yang berkaitan
dengan analisis sebagian data (data dari sampel) yang kemudian digunakan untuk
melakukan peramalan atau penaksiran kesimpulan (generalisasi) mengenai data
secara keseluruhan (populasi). Generalisasi tersebut mempunyai sifat tidak
pasti karena hanya berdasarkan pada data dari sampel.
4.2. PENGUJIAN HIPOTESIS
Hipotesis dapat diartikan sebagai
kesimpulan sementara terhadap masalah yang diajukan. Dalam kegiatan penelitian,
yang dapat menjadi sumber masalah adalah adanya kesenjangan antara “yang
seharusnya terjadi” dengan “yang sebenarnya terjadi”. Dengan demikian, yang
menjadi masalah adalah “apa yang menjadi penyebab timbulnya kesenjangan antara
yang sebenarnya terjadi dengan yang seharusnya terjadi”.
Dalam dunia akademik, suatu
masalah terlebih dahulu dijawab secara teoritik. Berdasarkan konsep teoritik
tersebut maka dapat diajukan suatu hipotesis. Dengan hipotesis tersebut suatu
masalah sudah dapat dijawab, namun jawaban tersebut masih bersifat teoritik dan
bersifat sementara. Oleh sebab itu, diperlukan data lapangan untuk memastikan
kebenaran hipotesis yang diajukan. Kebenaran hipotesis tergantung pada analisis
data lapangan. Hipotesis yang diajukan dapat diterima kebenarannya jika
analisis data lapangan sesuai dengan teori, sebaliknya jika analisis data
lapangan bertolak belakang (berbeda) dengan teori, maka hipotesis yang diajukan
dapat ditolak.
Hipotesis dapat bersifat
Kuantitatif dan dapat bersifat Kualitatif. Secara statistik, hipotesis yang
bersifat kualitatif tidak dapat diuji, sedangkan yang dapat diuji adalah
hipotesis yang bersifat kuantitatif. Hipotesis yang demikian, disebut Hipotesis
Statistik (Statistical Hypothesis) karena selain harus disajikan dalam bentuk
angka, hipotesis statistik juga merupakan pernyataan tentang bentuk fungsi yang
menggambarkan hubungan antar variabel yang diteliti.
Secara statistika terdapat dua
macam hipotesis, yaitu Hipotesis Nol (Null Hypothesis) yang diberi simbol
dengan Ho, dan Hipotesis Alternatif (Alternative Hypothesis) yang diberi simbol
dengan Ha. Hipotesis Nol menyatakan tidak ada perbedaan antara statistik sampel
dengan parameter populasi atau tidak ada hubungan antara dua variabel atau
lebih. Hipotesis Alterenatif menyatakan terdapat perbedaan antara statistik
sampel dengan parameter populasi atau terdapat hubungan antara dua variabel
atau lebih.
Dalam merumuskan suatu hipotesis, agar hipotesis yang
diajukan dapat diuji atau dianalisis maka yang perlu mendapatkan perhatian
adalah bahwa hipotesis hendaknya :
1. Menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih;
2. Dinyatakan dalam kalimat pernyataan;
3. Dirumuskan secara jelas dan padat (sistematik); dan
4. Dapat diuji kebenarannya berdasarkan data lapangan.
Terdapat dua tipe kesalahan dalam
pengujian hipotesis, yaitu Tipe Kesalahan I jika dalam pengambilan keputusan
berdasarkan pada penolakan hipotesis yang benar (yang seharusnya diterima),
sedangkan Tipe Kesalahan II jika kesimpulan berdasarkan pada penerimaan
hipotesis yang salah (yang seharusnya ditolak).
Probabilitas untuk terjadinya
kesalahan disebut dengan “Taraf Signifikan” atau disimbolkan dengan α, dimana nilai taraf signifikan tersebut dinyatakan dalam prosentase,
misalnya α sebesar 5%, 10%, dan lain-lain. Lawan dari taraf signifikan
adalah tingkat keyakinan, yaitu bernilai sebesar 1 - α. Misalnya
jika taraf signifikan sebesar 5% maka tingkat keyakinan sebesar 95 %, jika α
sebesar 10% maka tingkat keyakinan bahwa hipotesis yang diajukan benar
adalah sebesar 90%.
Semakin besar atau tinggi tingkat
keyakinan terhadap hipotesis (dinyatakan benar setelah diuji) maka hipotesis
tersebut semakin baik, tetapi yang harus menjadi perhatian adalah penetapan
tingkat signifikan (α) adalah :
1. Bidang ilmu dari penelitian
yang dilaksanakan. Bidang ilmu kelompok ilmu pasti, misalnya kedokteran dan
teknik, penetapan tingkat kesalahan (α) harus sekecil
mungkin karena akan berdampak sangat besar. Misalnya dalam penelitian untuk
membuat obat atau mesin, maka tingkat kesalahan (α)
pengukuran harus sekecil mungkin
2. Ruang lingkup dari penelitian
yang dilaksanakan. Wilayah penelitian menjadi salah satu pertimbangan dalam
penetapan tingkat kesalahan (α). Jika penelitian
dilakukan dalam wilayah nasional maka tingkat kesalahan akan semakin
besar dibandingkan jika penelitian dilakukan hanya dalam wilayah lokal.
3. Jumlah variabel yang diteliti.
Dengan semakin banyaknya jumlah variabel yang diteliti maka tingkat kesalahan
akan semakin kecil dibandingkan jika penelitian hanya menggunakan sedikit
variabel yang diteliti.
Dalam pengujian hipotesis
terdapat dua cara yang dapat dilakukan, yaitu pengujian hipotesis satu arah (One
Tail Test) dan pengujian hipotesis dua arah (Two Tail Test). Untuk pengujian
hipotesis satu arah dibagi menjadi dua, yaitu pengujian hipotesis satu arah
negatif dan pengujian hipotesis
40 Metode Penelitian Kuantitatif : Plus Aplikasi Program
SPSS
satu arah positif (tergantung hipotesis alternatif yang
diajukan
3. METODE ANALISIS DATA
3.1. Analisis Perbedaan
Analisis perbedaan dapat dibagi menjadi dua, yaitu Uji
Beda Rata-Rata dan Uji Beda Proporsi. Data yang digunakan
dalam Uji Beda Rata-Rata adalah bersifat data kontinyu,
sedangkan untuk Uji Beda Proporsi adalah data dalam bentuk
prosentase.
Analisis Chi-Square
Uji Chi-Square dapat dikatakan sebagai uji proporsi untuk dua
peristiwa atau lebih, sehingga datanya bersifat diskrit. Dalam Uji Chi-Square
dihadapkan pada suatu pengujian apakah perbedaan antara frekuensi hasil
observasi (diisimbolkan f0) dengan frekuensi yang diharapkan oleh peneliti
(disimbolkan fh) dari sampel yang terbatas merupakan perbedaan yang
signifikan atau tidak. Perbedaan tersebut meyakinkan jika harga dari Chi-Square
(
) sama atau lebih besar dari suatu harga yang ditetapkan pada
taraf signifikan tertentu (dari tabel
). Dengan kata lain Ho akan diterima jika harga
lebih kecil dari
dalam tabel, sebaliknya Ho akan
ditolak jika harga X lebih besar atau sama dengan
dalam tabel.
3.3. Analisis Regresi dan Korelasi
Analisis Regresi bertujuan untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh dari variabel pengaruh (variabel independen) terhadap variabel
terpengaruh (variabel dependen). Beberapa literatur menyebut variabel
independen sebagai variabel bebas dan variabel dependen sebagai variabel
terikat. Tetapi secara
jelas yang disebut variabel independen adalah variabel yang
dapat mempengaruhi variabel lain, sedangkan variabel dependen adalah variabel
yang dipengaruhi oleh variabel lain. Misalnya dalam persamaan konsumsi (C = a +
b Y), diketahui bahwa besanya nilai konsumsi (C) dipengaruhi oleh jumlah
pendapatan (Y). Dengan demikian yang disebut dengan variabel independen adalah
Jumlah Pendapatan (Y) dan yang menjadi variabel dependen adalah Konsumsi (C).
Yang perlu mendapatkan perhatian dalam menentukan variabel independen dan
variabel dependen adalah jangan “terpaku” pada notasi dalam suatu persamaan regresi,
karena masing-masing literatur menggunakan notasi sendiri-sendiri.
Analisis Korelasi digunakan untuk mengetahui tingkat
keeratan dari hubungan dua variabel. Sedangkan angka yang menunjukkan kuat
tidaknya hubungan antara dua variabel disebut dengan koefisien korelasi yang
dinotasikan dengan “r” (khusus untuk korelasi sederhana). Nilai koefisien
korelasi adalah – 1 ≤ r ≤ 1.
Jika r = – 1, berhubungan negatif “sangat” erat
Jika r = 1, berhubungan
positif “sangat” erat
Jika r = 0, tidak berhubungan
Jika r semakin mendekati angka – 1 atau 1, maka antara dua
variabel mempunyai hubungan yang kuat atau erat. Sedangkan jika r lebih
mendekati ke angka 0, maka antara dua variabel mempunyai hubungan yang tidak
kuat atau tidak erat.
4.3.3.1. Analisis
Regresi Sederhana
Penyebutan regresi linier sederhana karena dalam model
yang diajukan hanya memasukkan satu variabel independen
dan persamaannya berpangkat satu. Dengan demikian model
regresi linier sederhana adalah sebagai berikut:
Y = a + b. X (dalam beberapa literatur ditulis Y = b0 + b1.
X)
Keterangan :
Y : Variabel Dependen (variabel terikat)
X : Variabel Independen (variabel bebas)
a : Konstanta
b : Koefisien Regresi
3.3.2. Analisis
Regresi Berganda
Dalam analisis regresi linier sederhana jumlah variabel independen
yang digunakan adalah sebanyak satu variabel. Sedangkan untuk analisis regresi
dan korelasi berganda, jumlah variabel independen yang digunakan lebih dari
satu variabel. Dengan demikian model persamaan regresi linier berganda menjadi
: Y = a + b1 X1 + b2 X2 + … + b i X i
Keterangan:
Y : Variabel Dependen
X1 : Variabel Independen Pertama
X2 : Variabel Independen Kedua
X i : Variabel Independen Ke-i
b1, b2, …b i : Koefisien Regresi
a : Konstanta
Untuk mendapatkan nilai konstanta
dan masing-masing nilai koefisien regresi pada persamaan tersebut di atas,
khusus untuk analisis regresi berganda dengan tiga variabel (satu variabel
dependen dan dua variabel independen) sudah tersedia rumusnya, sedangkan jika
analisis regresi berganda dengan lebih tiga variabel, harus menggunakan metode
matrik.
Metode Analisis Data 67
Analisis regresi berganda tiga variabel model
persamaannya adalah sebagai berikut : Y = a + b1 X1 + b2 X2.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar